Formulir Kontak

 

Musikalisasi dengan Temanku, Yulia


Dulu puisi adalah hal asing bagiku walaupun udah dikenalin oleh guru bahasa semenjak SMP. Tapi puisi itu adalah ksesuatu yang tak bisa aku pahami maknanya. Pernah suatu ketika seorang guru menyuruhku ke depan untuk membaca puisi. Aku langsung kaget tentunya. Untuk maju ke depan memang tak apa-apa. Tapi kalau membaca sesuatu yang tidak kupahami maknanya gimana cara dan mengekspresikannya? Aku menolak waktu itu. Tapi karena ibu guru yang menjadi idolaku (Ibu Yanimar Said) ini terus memanggil namaku dengan ajakan membujuk, mau gak mau harus mau! Sebagai bukti menghargai seorang guru.
            Kedepan juga akhirnya, dengan buku yang ada di tangan tapi gak tau maksudnya sama sekali aku baca puisi itu dengan datar, tanpa ekspresi. Hmm, teman-teman pasti bosan banget melihat penampilanku waktu itu, yah itu adalah sebuah kekeliruan aku rasa.


Nah usulan untuk aku membaca puisi terulang kembali ketika aku kuliah. Saat ini puisi sudah tidak asing lagi bagiku karena semenjak SMA bakat yang datang tiba-tiba ini sudah menjadi separuh hatiku. Akupun menerima ajakan temanku untuk mengisi acara perpisahan dalam PKL terpadu (gabungan beberapa jurusan) di jorong jatah kami. Aku diajak duet dalam musikalisasi puisi. Hmm, aku dapat kebagian membaca puisi dan temanku, Yulia bernyanyi. Puisi yang kubacakan adalah karya sendiri dan tentu aku tahu sekali apa makna puisi ini. Dan alhamdulillah, musikalisasi puisi kami berjalan lancar. Thanks God!

Total comment

Author

Triana Irsyad

0   komentar

Posting Komentar

Cancel Reply