Formulir Kontak

 

Puisi-Puisi Tri Oktiana dalam buku Bingkisan Perjalanan (part 4)



¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Euforia Pemuda
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


perjalanan kita masih panjang
menggapai bongkahan emas yang membentang
sebagai armada masa depan
kepalkan tangan, siapkan mental
menjadi terdepan dalam pengabdian dan ketulusan!
meski setapak demi setapak yang kita jalani masih panjang
sebutir  benih tindakan berkonstribusi untuk masa depan
kerja keras dan semangat, roda pemacu membangun cita
siapkan karya, dan terus berkarya!
menggoreskan tinta emas di kancah dunia
bulir-bulir pengorbanan esok akan membias
memberi semburat merah muda di  tengah senja
sekalipun jangan pernah menyerah dan pasrah
bermimpi dan terus bermimpi!
gapai dan berlari
kibarkan merah menyala di dada ini
sucikan niat dan pengorbanan
ketulusan dalam cita demi bangsa
tebarkan karya, biarkan sejarah yang mencatat
masa depan berawal dari kita

Padang, 29 Maret 2012

¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Figura Lama
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


kupeluk rindu bersama figura lama
kenapa begitu cinta pada kisah klasik ini?
dalam kesendirian kutemukan manis tawa
bukan sekedar pundi-pundi kekaguman
tawaran sejuta senyuman dalam kicau burung
kehampaan lenyap saat terbayang aksaramu berucap
harapan kenangan manis terbangun dalam tidur panjang membosankan
terhanyut aku dalam kemilau-kemilau bahasa
sebelum figura karam,
kugantung pada langit teselubung awan

Padang, 26 Juni 2012










¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Garudaku
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


garuda mengepakkan sayap ke dua
melintasi cakrawala
menerobos angin raksasa
melintasi awan sangsaka

alam semesta
tempat berpijaknya jiwa raga
melintasi jagad raya
meneropong angkasa

garuda bermata dua
angin tak henti menerpa
petir tak henti mendera
belantika kehidupan
menyimak murka
namun garuda selalu menampakkan gagah

berlayar menerjang
gerak garuda bermetamorfosa

Padang, 18 Agustus 2010


¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Halusinasi
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


kerajaan ini bukan kediamanku
tumpukan puing-puing emas menyilaukan,
ragu aku pada timbunan kapas-kapas kering tengah terbaring

halusinasi memanjakanku
waktu mengetuk kesadaran
dan menghalau imajinasi
bila aku tidak di sini
aku ‘kan kembali, pada kumpulan tanah yang menari

Pariaman, 2008











¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Hari Bahagia
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


ini adalah hari bahagiamu
indahnya alam semesta
dua bola mata menjadi saksi
wanginya oksigen yang kau hirup
lembutnya tanah yang kau pijak
adalah kasih-Nya

cahaya matahari dan bintang
senantiasa menyinari setiap langkahmu
angin memberikan belaiannya di wajahmu
juga air melengkapi sel tubuhmu
adalah nikmat-Nya

hidup adalah anugrah
tiada ternilai harganya
kemudahan di setiap langkahmu
tanpa harus tersandung
adalah jalan Tuhan yang membahagiakan

Padang, 14 Agustus 2010





¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Hatyai, Aroma Baru
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


rehat sejenak,
kubaringkan badan di bawah teriknya panas Hatyai
di tengah euforia hari besar
di tengah senyum kebahagiaan mereka
tapi aku memakai jubah asing
nanti bersenda gurau dengan mereka dalam isyarat bahasa

sebuah aroma baru yang belum kutemui di Indonesia
dalam tawar-menawar cindera mata
jarang bahasa internasional,
yang kudengar detak-detak kalkulator dalam bahasa angka
dalam baht* sebagai imbalan

aku tersenyum
suasana cinta di Hatyai benar akan kurindukan
selamat malam Hatyai, kita akan berpelukan
ketika hariku ada di sini kembali

Hatyai, 24 Desember 2008
*Mata uang Thailand

¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
I
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


Takutku kian  mati
Hingga laju peluru menancap tak bernyali
Aku tak sendiri

Padang, 22 Oktober 2011


















¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Indonesia Negaraku?
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


Sudah 21 tahun darahku mengalir abjad i-n-d-o-n-e-s-i-a
Tapi belum kuteguk manisnya sebuah negara
Hingga kini masih kutemukan warna merah menguar di angkasa
Warna ‘berani’?
Berani masa kini dan dulu sudah beda
Dulu berani melawan penjajah dan kebodohan
Kini malah berani mencuri dan tawuran
Oh, aku malu melihat pejabat tersenyum di balik jari-jari jeruji
Dulu negaraku dipimpin cendikia
Kini si cerdik nan buruk rupa hatinya
Tenggelam satu berita, tak tanggung-tanggung 5 juta peristiwa hadir dengan tawa
Tawa tak tau malu!
Semakin hari menjadi-jadi
Negaraku miskin tak tau kenapaberpura-pura
Aset negaraku terbuang percuma, makanan untuk negara pencuri
Siapa yang kurang ajar atau siapa yang bodoh?
Kemarin baru saja aku mendengar minyak bumi diselundupkan
Kemarin lagi aku mendengar madat dimasukkan diam-diam
Kemarinnya  lagi aku mendengar noraknya perilaku pemuda
Indonesia negaraku?
Kapan aku, kita, sama-sama meneguk manisnya sebuah negara?
Malu aku melihat berita

Pariaman, 12 Mei 2013

















¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Jakarta
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


bus udara mengantarkanku ke jalanan sempit Jakarta
mataku liar menyaksikan hamparan batu-batu raksasa yang terukir
di udara, pita-pita saling melayang
paruku sesak, robot-robot bergerak memuntahkan aroma hitam tak sedap
tidak tercipta suasana harmoni alam bersahabat
tanah-tanah harapan hijau masa datang terjepit, sempit
Pondok Labu serasa jauh di alamat

udara kuhirup terasa panas, kecuali aku menelan pil AC memanjakan
dari sini kulantunkan lagu kampuang nan jauh di mato
berimajinasi suasana sejuk nan rupawan

aku si siput baru metropolitan

Jakarta, 28 September 2012





¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Jalan Bersemut Merah
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


lihat! dengan gontainya kaki itu berjalan
menelusuri pematang,
berumput liar
selangkah demi selangkah
telah berjumlah ribuan
penuh duri dan rerumputan bermata nyalang
kakipun tidak luput mengelepuh
sayatan dan sengatan pedih itu hadir
kaki masuk zona semut merah
mengerumuni luka yang perih
aduh! aduh!
ia mengaduh

Padang, 07 Desember 2010









¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Jalan Kenangan
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


dulu aku pernah bersandar
menyimak perjalanan rindu dari kejauhan
siang dan sore aku pernah berlari di sini
kini kutinggal dengan lambaian tangan
untuk sejenak melupakan
bilamana waktu kembali terulang
aku akan hadir seperti dulu

Padang, Agustus 2012














¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
 Jalan Menyongsong Matahari
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


dalam perwatakan manusia
di sinilah saat-saat menjelajahi kembali dasawarsa
mencoba menghapus paradigma
menjauhi keterkekangan pola-pola angan dan rekayasa

saatnya bergegas, bukan mengangkat senjata
membasmi takut yang membawanya segera
hancurlah kerangka yang tak berdaya

membangun sangkar-sangkar berdayaguna
menyingkirkan elemen-elemen berbahaya
memandang pemuda-pemuda

masih ada jalan menyongsong matahari
penyinar dunia nyata
menghabiskan gelap menyelimutinya
bergegas mendekap jalan sentosa

Padang, September 2010




¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Jambi, 2001
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤

di usia kecil kakiku menjejaki kota Jambi,
pada musim berpesta
menunggangi mobil tempo dulu
menelusuri jalanan Jambi di malam hari

usai pesta, aku bermain di bangunan megah raksasa
indah dan banyak mainan rekayasa
hingga aku merengek untuk sebuah pemutar suara,
aku dapatkan juga

Padang, 2012













¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤
Jauh dari Supernova
¤═════¤۩ஜஜ۩¤═════¤


keberadaanmu berotasi dihatiku
memberikan paradigma
bahwa kau menentangku
untuk menjadi supernova

terima kasih!

Padang, 2010














Total comment

Author

Triana Irsyad

0   komentar

Posting Komentar

Cancel Reply