Formulir Kontak

 

Cerbung: Jendela Kampus



Sudah beberapa kali aku jatuh cinta, tentu setiap kali merasakan selalu ada perasaan khusus. Namun kali ini aku membiarkan alam liarku bekerja. Duhai kekasih yang selalu kutunggu kesempatan untuk bertemu. Inspirasi menulisku. Kau adalah alasan setiap kata puitis itu terlahir. Ada rasa takut yang pernah menghantui di saat aku tau ada orang lain di setiap doamu. Bukan aku, kekasih. Aku tetap sabar menunggu di saat yang tepat. Menjadi penguntit diam-diammu. Pengagum rahasiamu. Teman pengantar pulang ke kosan yang belum pernah kau sadari. Maaf aku selalu mengikutimu di saat perjalananmu pulang. Hanya ingin memastikan bahwa kau sampai dengan selamat dan baik-baik sayang.
Kekasih, suatu saat aku memberanikan diri untuk berkenalan denganmu di sosial media. Terima kasih atas sambutanmu yang ramah. Kemudian, aku mencoba mendekatimu lebih dalam dengan meminta nomor teleponmu. Aku bersyukur kau memberikannya, walau kau memberi pertanyaan awal yang sulit aku balas dengan kalimat jujur,”untuk apa memang?”
            Kemudian aku balas,”untuk sharing mengenai kepenulisan.” Ah, itu alasan klise, namun beruntung kau memberikannya. Jika kau ingin tahu, inilah alasan sebenarnya: 1. Aku jatuh cinta kepadamu, 2. Aku jatuh cinta kepadamu, ingin mengenalmu, 3. Aku jatuh cinta kepadamu, ingin mengenalmu dan menjadi bagian kebahagiaan dalam hidupmu, dan alasan ke empat adalah sebab aku jatuh cinta kepadamu, ingin mengenalmu dan menjadi bagian kebahagiaan dalam hidupmu, dan ingin tetap jatuh cinta kepadamu. Itulah kekasih, semoga engkau tau dan membaca postinganku ini.
Kekasih, masih ingatkah? Di saat setelah aku mendapat nomor teleponmu, kebiasaanku masih sama, menjadi pengikut diam-diam. Di sore itu, di saat hujan datang, mungkin waktu  yang tepat. Kau secara tidak sengaja melihat kebelakang dan menemukan aku di bawah guyuran hujan. Kau  bertanya,” kamu mau kemana?”
            Aku ingin mengantarmu.
Lalu kau memandangku dengan tatapan yang aneh, maaf kekasih aku belum bisa jujur.
“Aku hendak ke rumah teman”
“Gak bawa payung?”
Aku menggeleng, kemudian kau memberi tawaran, “Mau nebeng?” meskipun kau sedikit khawatir karena harus sepayung berdua dengan aku.
“Tidak usah, sudah terlanjur basah”
“Gak apa-apa, sini. Bentar lagi aku nyampe kosan, nanti kamu bawa payung aku aja”
“Gak usah, udah terlanjur basah”
Kamu mengerlingkan mata.
Lebih tepatnya, terlanjur jatuh cinta,  itulah sebab aku ada di sini. Di dekat kamu.
“Rumah teman kamu deket mana?”
“Nggg, disebelah sana,” jariku menunjuk ke arah kanan dari kosanmu
“Oh,temannya cewek?”
“Gak, cowok”
“Bukannya itu kosan cewek ya?”
“Eh, maksudku yang di sebelahnya lagi.” Maaf aku ngarang.
Akhirnya tiba jua di kosanmu. Ah, kenapa jarak kosanmu terlalu dekat. Terlalu cepat pembicaraan ini berlalu.
“Ini, payungnya bawa aja”
Aku masih diam menatapmu.
“Ng, aku masuk dulu ya. Apa mau nungguin reda dulu?”
“Oh, iya maaf. Aku langsung pergi aja. Terima kasih, kekasih
“Sama-sama”
                                                bersambung
Semoga esok berjumpa kembali. Cinta yang kubungkus untukmu setiap pagi. Kamu adalah rangkaian doa yang tak terlupakan




Total comment

Author

Triana Irsyad

2   komentar

ini adalah dunia khayalan, wkwkw
ngarang ini kak

Posting Komentar

Cancel Reply