Formulir Kontak

 

Cerpen; Pelangi Ramadhan



Dengar, lantunan itu seakan bersuara memanggil namamu, mendekat dan semakin dekat langkahmu. Bukan berarti pertanda kepergian kembali terulang. Tapi berpisah dalam waktu sesaat, sesaat yang barangkali membuatmu terluka ataupun merindu untuk bertemu ia kembali.
Derap langkah itu semakin terdengar lemah, sesekali kakek menengok kebelakang, melihat apakah Zakia masih kuat menggotong kayu bakar itu. Sebetulnya ia sudah tidak tega, tapi Zakia yang memaksa untuk tetap ikut.
Dengan gotongan yang dua kali beratnya badan Zakia, kakek melangkah lelah. Namun melihat wajah lugu cucunya yang selalu tersimpul senyum, keringat bercucurpun mengering dan semangat menyembul untuk segera melangkah sampai di rumah.
Barangkali Zakia iba melihat kakeknya sendirian berjalan di tengah hutan. Ia berpikir, jika tidak ikut, kakek harus dua kali bolak-balik ke hutan yang jaraknya cukup jauh dari rumah.
Zakia merupakan cucu kedua dari pak Ibnu (kakek). Orangtua Zakia telah meninggal lima tahun yang silam akibat longsor. Kini Zakia tinggal bersama kakek dan abangnya yang bernama Akram. Zakia yang kini berusia sepuluh tahun begitu dekat dengan kakeknya, sebaliknya dengan akram. Sejak ditinggal oleh ayahnya, Akram tumbuh menjadi anak yang keras dan tidak penurut. Ia lebih suka berkeliaran. Bahkan terkadang bersikap kasar.
Acapkali akram merusak barang-barang yang ada di rumah untuk pelampiasan amarahnya. Kakek sudah sangat sering menasehati Akram namun ia malah memberontak dan mendorong kakeknya tanpa belas kasih. Peristiwa itu masih hangat diingatan kakek bahkan luka yang masih membekaspun bisa menyaksi hingga kini.
***
Jum’at yang cerah menjadi saksi peristiwa itu. Kakek memanggil Akram untuk megajak shalat jumat. Tidak seperti biasanya kini Akram menolak untuk pergi bersama. Beberapa minggu ini kakek memperhatikan Akram tidak pernah terlihat di mesjid yang ada di desa. Akram mengaku shalat jumat di desa seberang. Kecurigaan kakek mulai muncul. Setiap masuk waktu shalat, Akram selalu keluar rumah dan mengaku telah shalat. Kakek mulai khawatir, cucu lelakinya kini telah berusia lima belas tahun namun pertambahan usia tidak membuat Akram semakin taat malah semakin jauh dari agama.
Berkali-kali kakek mencoba menasehati, berkali-kali pula Akram memberontak.
“Ayo bersama-sama shalat jum’at di mesjid al-Irsyad.”
“Kakek duluan saja, aku menyusul nanti,” jawabnya ringan
            Kakek pun berlalu ke mesjid. Setelah selesai shalat, kakek memperhatikan disekeliling dan seperti minggu-minggu biasanya kakek tidak menemukan Akram di sana. Kakek segera pulang dan mencari Akram, dan ia pun menemukan akram tengah duduk santai dengan menggenggam sebatang rokok di jemarinya. Dengan sekali-kali mengepulkan asap di mulut.
            Kakek mendekat, dan meyakinkan dugaannya, “Sepertinya setelah beberapa minggu ini kakek tidak pernah melihatmu shalat lima waktu dan shalat jum’at.”
            “Ah, kakek sok tau. Aku shalat di desa seberang seperti yang udah aku bilang.” Akram membela diri.
            “Akram, shalat itu tiang agama, wajib hukumnya. Kamu tidak boleh meninggalkan walau sekalipun,” nasehat kakek.
            Ini si tua sok menasehati banget sih!” Akram membathin kesal.
            Tiba-tiba zakia mendekat, “ iya kek, bang Akram gak kemana-mana dari tadi. Bang akram duduk-duduk saja di rumah, gak shalat”
            “Jangan sok tau deh Zakia, dan jangan ikut campur!” emosi Akram menaik
            “Tuh kan, adik kamu saksinya. Kamu itu kenapa? Gak bisa dinasehati?”
            “Kakek itu yang kenapa? Sok peduli padahal sebenarnya gak peduli. Kakek merawat kita itu cuma buat memanfatin aja! Iya kan?” Akram berdiri dan menancapkan puntung rokok di tangan kanan kakek sedalam-dalamnya. Kakek meringis kesakitan
            “Bang Akram, sudah. Jangan sakiti kakek!” Zakia mencoba melerai.
            “Kamu itu mau saja membela kakek sialan ini, kita gak pernah di kasih kehidupan yang layak seperti yang diberikan oleh ibu dan ayah. Gara-gara kakek aku sering diledek teman-teman karena gak bisa mentraktir teman, gak punya motor!”
            Sejak peristiwa itu Akram melarikan diri entah kemana dan tidak berpamitan sedikitpun. Zakia begitu sedih karena saudara satu-satunya pergi meniggalkannya. Kini hanya tinggal kakek. Sepi semakin menyelinap di hatinya.
            Sudah beberapa bulan ini, kakek tengah sakit-sakitan. Tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di tempat tidur. Berobatpun tidak ia lakukan megingat biaya yang tidak ada. Namun diam-diam Zakia berangkat ke hutan untuk mencari potongan-potongan kayu  yang mungkin pohonpun sudah tak butuh lagi hingga melepas bagian tubuhnya dan melemparkan ke tanah, tentang sebuah perkara yang menakdirkan untuk berpisah. Oh, lagi-lagi ada kata ‘berpisah’. Jika saja Zakia mendengar ada kata berpisah dari mulut orang-orang yang ia cintai, tentu dia akan memilih lebih baik dia yang pergi.
            Seperti seekor burung yang menanti kawanan untuk terbang, Zakia malam ini tengah melamun di dekat jendela. Menatap langit yang dilingkupi atmosfer cinta para bintang. Sambil sesekali tersenyum. Setidaknya bintang bisa mendengar suara hatinya yang tengah mendung dan memberi secercah cahaya untuk tersenyum.
***
            Hari ini adalah hari pertama memasuki ramadhan, Zakia dan kakek menyambut dengan suka cita. Namun ada yang berbeda dengan ramadhan kali ini. Biasanya mereka menyambut ramadhan bertiga dengan bang Akram. Namun keberadaan Akram entah dimana saat ini. Ia telah pergi hampir setahun. Rasa sedih yang bergelayut segera ditumpas karena Zakia masih memiliki kakek yang selalu menjaga dan menyayanginya.
            “Kakek gak akan akan ninggalin Zakia kan seperti yang dilakukan bang Akram?”
            “Insyaallah tidak Za,  nanti pun kalau kakek pergi ingatlah Allah yang selalu menjaga dimanapun kita berada.”
            Zakia selalu senang mendengarkan nasehat-nasehat kakek. Zakia berjanji dalam hati, selalu ingat pada nasehat-nasehat itu.
            “Za, kalung ini untuk kamu. Kakek dapatkan dari hasil tabungan. Lihatlah permata ini. Meskipun kecil, ia tetap bersinar dan indah. Selalu berwarna. Kakek ingin kamu seperti permata berwarna pelangi ini juga. Meskipun kita rakyat kecil dan tidak memiliki apa-apa, tapi kita tidak boleh  menghilangkan keindahan sikap yang ada di hati kita, kita harus tetap menjaga iman. Hidup mandiri dan bersinarlah selalu seperti pelangi yang setia berbagi kebaikan.”
Malam ini begitu indah. Kakek memberikan sebuah kalung dengan permata pelangi pada Zakia. Itu adalah benda-satu-satunya yang berharga yang diberikan kakek.
            Pagi ini Zakia berangkat diam-diam lagi ke hutan. Seperti biasanya setelah mengumpulkan kayu ia akan menjualnya ke pasar. Biasanya kakek selalu bertanya kemana ia seharian dan tidak terlihat. Zakia memberi alasan belajar ke rumah kak Sutri, satu-satunya anak desa yang memiliki kesempatan untuk mengenyam bangku pendidikan hingga SMP. Kakek pun tidak menaruh curiga. Dari hasil megumpulkan kayu di hutan, Zakia sudah bisa mengumpulkan sejumlah uang dan berniat siang ini akan membawa kakek ke puskesmas yang jaraknya cukup jauh dari rumah.
            Dengan bersemangat Zakia berlari pulang setelah menjual hasil kayu yang dikumpulkan. Zakia membuka pintu kamar dan bersorak, “Kakek, aku punya uang, kita berobat yuk.”
Namun ajakan Zakia tidak di hiraukan kakek. Kakek begitu lelap. Zakia enggan membangunkan kakek sekarang. Ia pergi ke dapur dan memasak sayur untuk makan siang kali ini. Setelah nasi dan sayur terhidang di meja, Zakia mengambilkan sepiring untuk di bawakan ke kamar kakek. Untuk berdiripun kakek tidak sanggup, hanya bisa istirahat di atas kasur.
            “Kek, udah waktunya makan siang, makan yuk. Biar kakek cepat sembuh,” Zakia pelan-pelan membangunkan kakek.
            “Kek, ayo makan dulu. Sehabis ini berobat biar penyakit kakek cepat sembuh.” Zakia mulai bingung. Biasanya tidak sesusah ini membangunkan kakek. Mulai muncul perasaan was-was. Zakia mengguncang-guncang bahu kakek, namun kakek tidak juga bangun. Perlahan-lahan pikiran Zakia melayang kepada kemungkinan terburuk. Zakia langsung berlari ke rumah pak Daus, tetangga mereka.
            Setiba di rumah Zakia, pak Daus memeriksa nadi kakek dan tanda-tanda berdenyut tidak ada lagi. Pak Daus yang ditemani oleh istrinya menarik nafas dan menatap sendu wajah Zakia. Zakia tengah menangis sejadi-jadinya. Istri pak Daus merangkulnya dan membisikkan dengan halus agar tetap tabah. Namun Zakia tidak bisa berhenti menangis. Kakek yang sangat ia cintai kini telah tiada. Pergi untuk selamanya.
            Hudup sebatang kara tanpa sanak saudara mungkin tidak pernah terpikirkan oleh seorang anak mandiri seperti Zakia. Sedih, tentu. Tapi dibalik kesedihan itu Zakia selalu ingat pesan kakek, ingatlah Allah yang selalu menjaga di manapun kita berada.
            Pun pesan kakek yang terakhir di malam yang indah itu, “Hidup mandiri dan bersinarlah selalu seperti pelangi yang setia berbagi kebaikan”.
Kini usia zakia telah dua belas tahun. Pekerjaan sebagai pengumpul kayu bakar masih tetap dilakoninya. Selain itu Zakia telah memiliki pekerjaan baru yaitu menjahit mukena. Dibandingkan dengan anak sebayanya, Zakia begitu telaten dan disiplin dalam berkerja. Meskipun tidak mengecap bangku pendidikan namun Zakia sangat ingin sekali menjadi orang sukses. Ia percaya jika bekerja keras dan sungguh-sungguh serta menyerahkan segalanya kepada Allah akan selalu ada kemudahan yang akan ia dapatkan.
            Sudah hampir genap setahun Zakia tinggal sendiri, tidak ada yang mengangkat dia sebagai anak, mengingat rata-rata perekonomian masyarakat setempat adalah ekonomi rendah.
Bulan depan sudah memasuki ramadhan, dan Zakia terenyuh kembali. Ia tinggal seorang diri dan melewati ramadhan kali ini juga seorang diri. Terbesit kerinduan kepada kakek. Pun pada bang Akram. Zakia pun berbicara dengan hati, kalaulah bang Akram tetap di sini tentu ia tidak akan sendiri menjalani kehidupan ini. Ia ingin bang Akram kembali.
Shubuh di hari pertama ramadhan Zakia menyempatkan shalat di mesjid. Hampir sama di hari-hari sebelumnya ia selalu  menyempatkan shalat di mesjid bersama rombongan ibu-bu yang sudah lanjut usia.
Ketika sudah balik dari mesjid, ada seorang sosok lelaki yang tengah duduk di dekat pintu rumah. Zakia penasaran dan sedikit ragu-ragu untuk mendekat. Sambil mengucap salam ia perlahan melangkahkan kaki menuju rumah. Sosok lelaki itu mengangkat muka. Wajah yang sudah tidak asing lagi baginya. Bang Akram kembali. Namun dengan wajah yang penuh luka-luka. Entah apa yang terjadi. Setelah Zakia mendesak bertanya bang Akram hanya cerita bahwa ia dipukuli karena mencopet. Kini ia berjanji akan berubah jadi lebih baik. Ia pun menyesal karena pernah menyakiti kakek. Kini kakek telah tiada, ia tak tau harus melakukan apa. Lalu siang itu Zakia mengajak bang Akram untuk berziarah di makam kakek sekaligus mendoakan agar kakek selamat dan jauh dari siksa kubur.
Ramadhan kali ini muncul kembali pelangi di hati Zakia. Ia kini tidak sebatang kara lagi. Paling tidak ada tempat berbagi di kala susah dan senang. Pelangi yang setiap waktu selalu ada, dan kini pelangi itu muncul di tengah ramadhan. Ramadhan yang selalu diwarnai dengan warna-warni. Meski tahun lalu warna itu meluntur dan gelap, saat-saat kepergian kakek. Namun ia merasa gelap itu masih diwarnai nasehat kakek yang begitu indah. Sedang ramadhan kali ini, muncul warna baru yang tidak asing, bang Akram telah kembali bersama penyesalan yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih baik.

Total comment

Author

Triana Irsyad

0   komentar

Posting Komentar

Cancel Reply